Jane Austen


Ya. Pride and Prejudice adalah karya dari Jane Austen yang pernah saya baca di perpustakaan Humaniora. Itupun saya baca karena ada tugas membuat summary film Pride and Prejudice dari dosen mata kuliah English Prose saat itu. Kisahnya sederhana namun membuat saya jatuh cinta dengan plotnya hingga saya berpikir kalau membaca novel aslinya pasti akan lebih menarik. Kamu sepertinya pernah mendengar judul ini kan. Filmnya menarik dan saat inipun kamu akan dengan mudahnya menemukan film ini di warnet-warnet terdekat.

Film yang diadaptasi dari karya Jane Austen. Dibintangi oleh Keira Knightley, salah satu aktris terbaik Inggris
Saya ingat, Jane Austen dan George Elliot adalah dua penulis perempuan abad Victoria yang pernah mampir dalam daftar penulis favorit saya ketika masih kuliah di Sastra Inggris dulu. Meskipun jika suatu hari kamu melihat daftar penulis klasik favorit saya kamu akan menemukan lebih dari 20 daftar nama di sana. Salah seorang teman pernah mengatakan, "Kalau kamu ingin menjadi lebih bijaksana, dewasa dan memahami perasaan orang lain lebih mudah bacalah karya sastra". Karena itulah saya membaca lebih banyak dari teman-teman sekelas dan berani mengambil langkah di konsentrasi Sastra disemester 5 dulu.

Itulah perkenalan pertama saya dengan Jane Austen, sang maestro Pride and Prejudice yang legendaris. Kalau kamu punya waktu lebih, luangkanlah untuk menonton film manis ini. Saya jamin kamu tidak akan menyesal. Asalkan kamu tidak lupa meresapinya sebagai sebuah mimesis dari kehidupan nyata di jamannya.

Yogyakarta, 26 Oktober 2014

Something About My Interest (Literature)

Kenapa saya menyukai sastra? Karena itu satu-satunya jalan pelarian saya yang paling rasional. Mungkin itulah jawaban yang bisa saya tuliskan ketika ada seorang teman yang awam tentang sastra bertanya. Saya menganggap dunia sastra (terlepas dari legitimasi 'sastra' yang sesungguhnya) adalah ruang pelarian paling nikmat dan mudah. Bisa bayangkan anak kelas 3 SD menulis sebuah drama sebanyak 3 buku hanya demi melarikan diri dari perpisahan yang tidak dia pahami kan? Itu adalah sejarah diri saya yang menyedihkan karena mendadak saya harus berpisah dengan orang paling berharga dalam hidup saya. Nenek. Saya melarikan diri dengan menulis drama percintaan paling amatir demi melupakan rasa rindu dan frustasi saya. Nenek adalah ibu dan ayah sekaligus buat saya. Itulah perpisahan kedua paling mengguncang dalam hidup saya setelah perpisahan pertama dengan ibu kandung saya sendiri diumur 9 bulan.

Pembaca setia saya: teman-teman sekelas yang setia mengantri hari demi hari dan menunggu kelanjutan hidup dan cinta tokoh-tokoh pelarian saya. Bahkan, ketua kelas yang membuat saya cukup muakpun membisikkan perintah otoriternya "pokoknya, kamu wajib minjemin aku lebih dulu daripada lainnya. Inget ya Ry.." Kebodohan sayapun akhirnya menggiring saya mengantarkan buku cerita tersebut ke bangkunya. I was truly regretted these silly moments. Tidak bisa saya bayangkan darimana saya mendapatkan bahan referensi cinta yang teramat amatir tersebut selain dari nyerinya perpisahan yang saya rasakan dan kemarahan saya pada umi dan abi ketika itu.

Beberapa lama kemudian, ketika saya menginjak bangku SMP saya tidak lagi menulis drama amatir seperti yang biasa saya lakukan ketika SD. Tetapi, saya mulai menulis cerpen dan mengirim beberapa untuk dipajang di Mading sekolah. Saya membaca lebih banyak buku paket Bahasa Indonesia yang memuat berbagai cerpen dan dongeng legenda untuk mengamunisi cerita-cerita saya. Sampai akhirnya saya jatuh cinta pada Bahasa Inggris untuk pertama kalinya di bangku kelas 2 SMP dan berakhir dengan menghapal lagu Westlife-My Love berulang-ulang. Saya lupa dengan cerpen-cerpen saya hingga akhirnya saya mendiamkan semua cerita-cerita yang tertulis setengah jalan.

SMA adalah momen kedekatan saya dengan Thiya (teman yang sebenarnya sudah sekelas semenjak awal SMP dulu). Dia menyarankan saya menulis puisi, dan saya menulis puisi. Referensi saya? Dengan menyesal saya menjawab bahwa buku referensi dan inspirasi paling besar dalam puisi-puisi saya adalah inventaris sekolah berupa Kamus Besar Bahasa Indonesia dan English Dictionary yang sampulnya entah kemana. Sekolah tidak memiliki perpustakaan ataupun buku yang bisa dipinjamkan kepada siswa selain dua kamus lusuh  tersebut. Namun, anehnya... Puisi-puisi yang saya tulis mencapai 10 buku tulis setebal 38 halaman. Beberapa disewa dan melayang menjadi surat cinta romantis ke sekolah putra oleh teman-teman sekelas saya. Beberapa yang lainnya menjadi tulisan paling dirindukan di mading-mading pesantren Kediri. Tak pernah sekalipun saya kirimkan ke penerbit ataupun media massa semacam majalah, tabloid ataupun koran.

Semua proses itu mengantarkan saya menjadi mahasiswa Sastra Inggris. Saya mengharapkan semua kreatifitas itu terwadahi dengan sempurna. Namun, ternyata harapan saya terlalu muluk-muluk. Saya bahkan tidak pernah sekalipun menulis seperti sebelumnya sejak datang ke kampus. Sistem dan kebijakan kampus sejenak membunuh kreatifitas saya. Sampai akhirnya saya ketemu dengan syurga karya sastra klasik di perpustakaan SAC milik fakultas Humaniora. Saya bertemu dengan orang-orang yang bernasib lebih buruk dari saya di masa lalu dan menjadikan sastra sebagai pelarian. Namun bukannya mereka terbebas karena telah menemukan pelarian, malah sebaliknya mereka semakin terkubur dalam ketidakberdayaan karena bentuk pelarian mereka dikecam pemerintah.

Dari sanalah saya melakukan refleksi dan perenungan yang mendalam tentang semua yang pernah saya lalui selama menjadi penulis amatir. Saya membongkar semua dokumen lama saya dan menemukan bahwa puisi dan cerita-cerita yang saya tulis semenjak kecil tak sedikitpun lepas dari perasaan saya yang diperas intisarinya. Perasaan sedih dan kehilangan yang teramat dalamlah yang mengantarkan saya pada kedalaman makna. Saya kepingin membongkar semua norma dan membebaskan diri demi mencintai dan menyayangi sebanyak mungkin. Saya berkaca pada semua tulisan saya sendiri bahwa ternyata kamus-kamus itulah pahlawan tak terbilang yang menuntun saya pada bahasa yang rapi. Kamus lusuh tanpa kulit itulah yang bikin kesedihan dan kutukan-kutukan dalam tulisan saya melayang dengan kesamaran yang sempurna. Metafora-metafora yang dapatkan dari keterbatasanlah yang membawa saya berpijak pada pemahaman yang dalam pada interpretasi.

Yogyakarta, 25 Oktober 2014
my flashback is the way I strengthen my self from sorrow

Hans Clodhopper (One of The Story Tale By Hans Christian Andersen)

Hey, kamu pernah membaca dongeng kan? Saya yakin semua orang pasti pernah membaca dongeng atau minimal pernah mendengarnya dari orang lain. Tak terkecuali saya yang suka sekali dengan dongeng dan cerita anak-anak. Sepertinya saya sudah pernah memberitahu kalau dongeng pertama yang saya lihat langsung adalah Alice in the Wonderland dan Dorothy Gale: Return to Oz. Dongeng-dongeng selanjutnya adalah dongeng yang biasa saya baca di buku paket Bahasa Indonesia ketika masih SD dulu dan beberapa saya ketahui dari dunia televisi pasca Orde Baru runtuh pada tahun 1998.

Pernahkah kamu mendengar kisah tentang Hans Clodhopper? Saya pernah membacanya dari salah satu buku dongeng fenomenal berjudul 'Fairy Tales from Hans Christian Andersen'. Hans Clodhopper berkisah tentang seorang laki-laki bodoh dan kedua saudaranya yang hendak meminang seorang putri raja. Kedua saudaranya merupakan laki-laki terhormat dengan kecerdasan dan kesantunannya yang tinggi, sedangkan Clodhopper adalah laki-laki bodoh yang banyak bicara. Kedua saudara Clodhopper datang ke acara peminangan tuan putri dengan kuda yang cantik dan gagah namun Clodhopper malah datang dengan menunggangi kambing muda. Kalau kamu ingin tahu tentang kisahnya, kamu bisa membaca sendiri di buku yang telah saya sebutkan tadi.

Hans Christian Andersen reading a story called The Angel (taken from Elisabeth Jerichau Baumann, Danish)

Pesan kecil dari dongeng tersebut sebenarnya cukup sederhana. Tak semua orang yang cerdas dan pintar itu bisa mendapatkan keberuntungan. Kecerdasan seseorang kadangkala membuat dirinya lupa pada hakikat hidup yang sesungguhnya. Itu pesan kecil yang tersurat dalam kisah Hans Clodhopper yang saya baca kembali sore ini. Semoga kamu memiliki waktu yang lebih untuk membacanya juga.

Yogyakarta, 26 Oktober 2014
14.15 wib

At The Point of Darkness

Itu terjadi pada tanggal 20 Oktober 2014 sejak sore hari. Saya tidak tahu jam berapa tepatnya, yang saya tahu sepertinya adzan Maghrib masih belum berkumandang. Yogyakarta diliputi kegelapan (mati lampu tepatnya) yang katanya juga sampai ke wilayah Semarang. Saat itu saya dalam perjalanan pulang dari mengajar privat anak-anak SMA ketika semua lampu lalu lintas tak ada satupun yang hidup. I just had a bad feeling about this.

Saya tiba di tempat kos tepat jam 6 sore dan baru tahu kalau ini bukanlah pemadaman rutin yang biasanya dilakukan PLN. Seluruh wilayah Jogjakarta dan Semarang terkena gangguang listrik. Yang pertama kali saya rasakan adalah: ketika hawa panas berada di titik lebih dari 30 derajat celsius ini, kenapa harus mati lampu ya Allah? Dengan kondisi seperti ini, saya mendadak benci pada diri sendiri yang tidak bisa nrimo ataupun sabar. Saya gagal ujian tahap pertama menahan amarah dan tidak qana'ah. Alhasil, saya tidak bisa tidur hingga pukul 2 pagi karena tubuh saya tidak bisa beradaptasi dengan hawa panas. Unfortunately, lampu lilin yang biasa saya gunakan mendadak habis dan buruknya saya tidak bisa beradaptasi dengan kegelapan. Air yang biasa saya pakai untuk menetralisir hawa panas juga macet karena selama ini kami mengandalkan sepenuhnya penggunaan listrik untuk mendongkrak sumber air bersih.

Pada saat-saat buruk seperti itu, saya tiba-tiba teringat pada kematian. Saya bertanya pada diri sendiri, beginikah rasanya detik-detik sakaratul maut itu, duh Rabby? Ketakutan dan depresi sampai menghanyutkan logika. Saya bahkan tidak bisa lari pada imajinasi-imajinasi tertentu yang membuat saya bahagia. Saat itu saya benar-benar tertekan sampai kesulitan bernapas. Demi menetralisirnya, saya mencoba berkomunikasi dengan salah seorang sahabat saya di ujung sana. Mengajaknya bercanda dan mencoba bergembira sedikit-demi-sedikit. Tetapi, teks pesan tersebut terasa kaku dan semakin membuat saya sendirian di kegelapan. Perlahan saya mulai menyerah dan mencoba tidak berperang dengan kegelapan, rasa takut dan ketidaknyamanan yang sudah mendominasi setiap sel tubuh dan jiwa saya. Saya membayangkan sesuatu. Sesuatu yang cukup kuat sampai akhirnya saya jatuh tertidur dan bermimpi tentang hal tersebut. Masa kecil.

Saya terkejut sampai terbangun tatkala lampu kembali hidup dan kipas angin saya berputar-putar menyapu kamar. Saya mendapati pintu kamar saya masih terbuka dan terjanggal kaki kiri saya. Saya tidak tidur di kasur, tetapi tepat di depan pintu kamar.

Yogyakarta, 21 Oktober 2014
Pagi harinya, saya juga mendapati tubuh saya demam ringan

I am Sorry, I Can't Be Perfect

Dear father,
Maaf... Saya tidak bisa menjadi seperti apa yang engkau harapkan. Saya berharap kali ini engkau tidak salah paham lagi pada saya. Saya mengerti, sangat mengerti, bagaimana engkau tidak pernah absen sedetikpun memberikan segalanya untuk saya. Namun, sungguh saya tidak bisa memberimu apapun kecuali rasa terima kasih tak berkesudahan. Terima kasih atas bahagia dan rasa sedih yang lebih dalam dari apa yang saya rasakan. Terima kasih untuk pelukan dan rasa depresi yang dalam ketika saya sedang sakit. Terima kasih untuk cecap doa yang engkau limpahkan setiap waktu. Terima kasih untuk airmata yang menahan saya dari rasa sakit dan kelumpuhan. Jika bukan karena engkau dan atas nama engkau, saya tak akan pernah mendaki setinggi ini. Saya akan menjadi manusia. Manusia ini yang suatu hari nanti akan menjamin semua airmata dan kesedihan yang engkau rasakan terbayar dan terlunasi.

Dear mother,
Maaf... Untuk kedekatan kita yang tersekat. Saya menyadari betapa sekat ini sebenarnya membawa saya pada rasa bersalah yang tak termaafkan. Semestinya saya membiarkannya berlalu. Untuk sekat sebanyak 7 tahun dimana sebenarnya aku membutuhkan engkau lebih dari yang terbayangkan. Dan untuk sekat tak terkatakan yang membuatku semakin jauh dan menebalkan sekat kita selama ini. Namun, diluar semua sekat-sekat itu saya paham bagaimana rasanya jika engkau tahu bahwa saya telah memasang sekat tersebut selama bertahun-tahun lamanya. Saya tak akan termaafkan, tak mengapa. Sekat itulah yang sebenarnya membuat saya mampu melihat hatimu lebih dekat. Betapa perihnya hidup yang kau lalui selama ini. Diluar keterpaksaan dan pertaruhan hidupmu yang sesungguhnya, engkau malah membuat sumber kasih sayang yang tak pernah mati. Engkau memeras cinta termurni dari luka-luka hidup yang telah engkau lalui. Saya tahu itu dengan pasti, karena itulah sesungguhnya saya yang berhutang hidup dan rasa terima kasih paling banyak dari engkau. Izinkan saya belajar lagi darimu. Belajar memaafkan diri saya sendiri dengan melihat semua langkah yang telah engkau buat.

Dear sisters,
Maaf... Saya tidak menjadi saudaramu yang sesungguhnya ataupun menjadi salah satu bagian dari diri kalian yang indah seperti yang kalian bayangkan. Saya hanya peduli pada diri sendiri. Tak selayaknya saya menjadi bagian dari diri kalian sementara saya dengan begitu egoisnya selalu meletakkan kepentingan diri sendiri digarda paling depan. Saya tak pernah menjadi pelengkap rasa butuh dan sandaran bagi keresahan kalian. Pada akhirnya, sayalah yang belajar dari kalian. Saya tak pernah memberi apapun pada kalian, namun sebaliknya saya selalu menerima kehangatan-kehangatan dan tawa dari kalian. Selain rasa terima kasih tak terperi, tak ada satupun yang bisa mewakili pengorbanan dan kebahagiaan yang telah kalian limpahkan kepada saya.

Dear buddy,
Maaf... Karena tak pernah menjadi seseorang yang berarti untukmu. Sebaliknya, saya selalu menculik mimpi-mimpi dan inspirasi darimu demi menyingkap semak belukar kesulitan dalam hidup saya. Entah seberapa besar rasa kecewamu pada saya hingga detik ini. Akan tetapi, kau tak pernah pergi dari sampingku. Selalu berada diposisi siaga menjadi sandaran pertama untuk semua rasa takut dan gentarku. Maafkan... Saya sungguh-sungguh minta maaf atas kualitas dan kekuatan inspirasi dalam hidup yang kau pinjamkan pada saya malah hancur dan sia-sia. Suatu hari nanti, saya akan mengembalikannya padamu.

Dear someone I hate the most
Maaf... Saat itu saya masih terlalu kecil untuk memahami hidup yang sesungguhnya. Saya butuh perjalanan selama bertahun-tahun untuk menemukan kedewasaan diri saya. Dan kau menjadi salah satu bagian terfatal dalam kalender sejarah perjalanan saya. Karena itulah, maafkan saya masih belum mampu memaafkan. Namun, kaulah lakon utama kepahitan hidup yang saya ingin sekali berterima kasih sedalam mungkin. Terima kasih telah mengajarkan saya pada gelapnya hidup di masa lalu. Bagi saya, luka yang sempat kau torehkan adalah jalan lain membaca rumitnya kehidupan. Saya belajar menghargai kebahagiaan dan penerimaan dari kesedihan dan pelarian.

Dear teacher
Maaf... Saya sudah sejauh ini dari mimpi manusiawi yang pernah kau bisikkan di telinga. Terima kasih untuk jalan lurus yang tak pernah berhenti kau tunjukkan pada saya. Saya tidak pernah menyangka kalau saya sebebal ini dengan semua nasehat-nasehat dan pilihan hidup yang pernah kau sodorkan ke hadapanku. Saya tak pernah mendatangi jalan lurus yang dulu sempat kau tunjukkan, sebaliknya saya memilih datang melalui jalan terjal paling beresiko demi mengkhidmati perjalanan diri sendiri. Demi sebuah kejujuran pada diri sendiri.

Dear someone I loved,
Saya mencintaimu dengan sungguh-sungguh. Entah bagaimana caranya saya jatuh cinta padamu dengan tragis dan tanpa penyesalan sedikitpun. Terima kasih memberi saya kesempatan langka dengan luka, rindu, dan perasaan mati suri karena takut kehilanganmu. Kalaupun ditanya saat inipun, saya masih mencintaimu. Hanya saja saya mencintaimu dengan cara berani melepaskanmu dengan sempurna. Maaf... Jika di masa itu saya sempat menyakiti dan membuatmu menangis agak lama sebagai seorang laki-laki. Darimu, saya belajar mencintai tanpa takut kehilangan dan berhenti. 

Dear Islam,
Maaf... Karena baru kali ini saya merasakan betapa dahsyatnya maknamu dalam perjalanan yang saya tempuh. Saya merasakan penerimaan dan kebebasan luar biasa dalam lingkup pelukanmu yang nyaman. Saya merasakan jalan uluhiyah yang pernah kau bisikkan ke dalam celah-celah hati. Saya telah berhadapan dengan agama-agama selain dirimu, betapa menakjubkannya mereka, betapa menyejukkannya mereka. Namun, yang terjadi bukannya kegoyahan ataupun rasa bingung tak berkesudahan. Saya berlari dengan bahagia kepelukanmu. Menyelimuti diri dengan kehangatan dan misterimu. Dan maafkan, karena saya tak pernah sempurna di matamu. 

Dear my soul,
Maaf... Karena sudah membuatmu terendap begitu lama dalam kebohonganku pada diri sendiri. Entah berapa kali engkau meminta saya untuk membebaskanmu. Kini, saya mempercayaimu sepenuhnya dalam makna bahagia dan penerimaan yang seluas semesta ini. Maafkan, karena saya tak pernah menjadi sempurna.

Yogyakarta, Last Night
24 Oktober 2014