Hembus hujan itu, menyeret lirih sedih duka yang menggumpal dalam sangkar mendung. Melesakkan nafas sejuk di seluruh renyainya. Lalu, mengapa kau membencinya?
Tampilkan postingan dengan label Me. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Me. Tampilkan semua postingan
Let You Flow...
Saya mungkin bisa melepaskanmu,,
tetapi saya terlanjur jatuh di dalam sini
yang tak memungkinkah bagi hati saya untuk keluar
jadi, biarkan saja...
saya tahu kalau saya sedang terluka
biarlah waktu berjalan
saya masih punya hujan untuk berbasahan
mengguyur habis ketakberdayaan
meski ia tak bisa melepaskan rasa sakit saya
namun, saya akan rasakan sensasinya
perihnya terluka dimana hanya waktu yang bisa membalutnya
Malang, 1 Agustus 2012
Membacamu, Ayah...
Aku yang terlambat memahamimu, ayah. Bukan, tetapi aku masih belum mampu memahamimu hingga detik ini berlanjut. Adakah yang lebih berhak kumuliakan daripada engkau dan ibu? Dalam hidupku, engkau tak bisa dan takkan pernah bisa tertukar dengan apapun. Hanya itu definisi tentangmu yang mampu kurekam sedekat ini. Aku belum bisa memaknai amarahmu dengan cinta selembut lembaran daun kering yang terjatuh. Aku belum mampu memaksakan hatiku memaknai diammu sebagai langkah lain engkau tunjukkan cintamu.
Ayah, adalah engkau yang selama ini menggenggam separuh perjalananku. Yang tak mampu kutukar bahkan dengan cinta terdalamku.
Cinta seperti apa yang engkau definisikan dalam lekang waktu selama ini? Hatiku belum mampu membacanya sejelas itu. Ada ego dalam fikirku yang menyekat pengertianku.
Waktu demi waktu masih melajukan kasih sayangmu selembut renik debu. Aku tak mampu sehalus itu mencintaimu. Hanya mimpi sebagai hutang yang belum terbayarkan dalam penuh usiamu hingga saat ini. Egomu kuartikan sebagai kekacauan dalam binari hatiku. Kehendakmu kumaknai sebagai pengekangan yang tak memiliki arti.
Maafkan, bila ternyata kesalahan itu terlalu dini dan akhirnya meruncing terekam jelas oleh waktu. Cinta tak mampu kuhadirkan dalam tangis kemarahan seperti ini.
Ayah, bilamana engkau dan aku tak bisa berubah, bilamana kita masih berada jauh dipersimpangan ini diam-diam, dan bilamana aku masih sangat sulit membaca semua yang engkau berikan. Maka, hanya doa sebagai hujan terakhir yang meluruhkan segalanya..
Mimpi-mimpi ini, kupersembahkan untukmu sebagai tiket masuk pada firdausNya. Rumah yang engkau impikan pada daftar doa terakhir, diantara tumpukan mimpi demi aku dan hidupku yang membuat ramai ujung sajadahmu.
Malang, 26 Juli 2012
Sabar...
Jalankan semuanya dengan kesabaran..
Meskipun sebenarnya saya sendiri sangat susah bersabar
Tapi, kita harus saling mengingatkan
karena dengan demikian akan terjaga satu sama lain...
..............
Adakah yang lebih sabar dari kenangan?
Yang mengajarkan kita untuk saling menunggu
bahwa mungkin waktu tengah merangkai jeda yang lebih panjang
daripada ratusan detiknya yang mendetak
Adakah yang lebih sabar dari rimbun sunyi yang terucap
lewat doa kecil di ujung subuh?
Yang selalu membawaku pada harap dan sujud panjang
ucapkan sejenak pada sang Izzah
"Tuhan, sabarkan hati ini."
Ganjaran, 23 Juli 2012
"Saya tak pergi kemana-mana, pun juga hatimu"
Jangan Lelah Menunggu...
Jangan lelah menunggui waktu yang kian memaju
bayangku masih menuju sunyi yang menyeret perih
setiap kali hentakan detik memejarakan hampa-hampaku
aku teringat engkau yang menunggu dibangku yang sama
menghitung gerimis sebanyak rindu yang berjejatuhan
tanpa kata, sirna perlahan mulai mengambil tempat di sisimu
deru-deru dalam kalbuku mulai menepis batas
engkau... Jangan lelah menungguku dalam kenang
kelabu jalan setapak ini membuat langkahku tertahan
hanya ada pendar rindu yang memijarkan jejakku
bertahanlah... menahanlah bersama waktu
sejenak dalam irama senyap.
Jangan lelah menunggu...
Malang, 22 Juli 2012
12.56 wib
Sisiku dan Sisimu..
m
Menapaki sisi-sisimu.. alangkah jauhnya engkau dan aku.
Menyelami duniamu, betapa jauhnya dunia kita saling berhadapan.
Ada ruas dan sekat yang dalam di antaranya, tak mampu lebur dalam satu waktu.
Dua lembar sisi dunia kita, ada lembaran dongeng yang mengharuskan aku memahaminya dalam ruang berbeda. Namun, kita masih dalam waktu dan detik yang selalu sama.
Sisi-sisimu, adalah dunia yang tak tersentuh hujan-hujanku. Memetamorfosa segalanya dalam keramahan sebuah nurani. Alur yang searah denganku, namun tak seniat dengan deretan detak mimpi-mimpiku. Seringkali, sayap-sayap rinduku yang lembut perlahan tergores oleh ranting-ranting dalam jiwamu. Aku tertinggal jauh olehmu, oleh segala sisi yang engkau miliki dan bingkai sendiri. Perlahan, aku seakan mendekap nafas erat-erat dalam pertahanan waktu. Jarak tak mengubah segalanya, aku masih terus mengikutimu.. menapaki dengan sabar sisa jejakmu yang masih menghangat di bulir pasir waktu. Prasangka dan kadangkala rasa cintaku, membulir hingga tak tahu hari dan jam..
Ah, waktu... izinkan aku bertahan dalam menyelami semua sisi-sisimu...
Sisi-sisiku, adalah ruang berbatas dengan aroma perdu sehabis tersiram hujan. Sisiku, berwarna kelabu, lembut dan mencekam sensasi. Aku tak berharap engkau mengerti, aku tak memaksa untuk dipahami. Sebab, jarak kita adalah antara hujan dan teriknya malam menggantung nadi. Kubayangkan engkau yang melangkah lemah dengan ujung pena meruncing di ujung hati. Menggurat waktu dengan rindu namun saling menggelabui. Melepas pandang namun hati menjelmakan sebuah bongkahan fajar di pinggir sunyi.
Sisi-sisiku, adalah aku yang setiap merindu selalu bernafas dengan irama sunyi. Melepas perih dengan lirih yang tersembunyi. Dan, sisi-sisimu adalah ruang lain dari fajar yang memantik renyai kemilau. Tertahan, menggema dan saling membenamkan..
Pada sisiku dan sisimu.. Adalah dunia dengan sekat rindu yang melagu dalam jarak sepi.
Malang, 18 Juli 2012
Menapaki sisi-sisimu.. alangkah jauhnya engkau dan aku.
Menyelami duniamu, betapa jauhnya dunia kita saling berhadapan.
Ada ruas dan sekat yang dalam di antaranya, tak mampu lebur dalam satu waktu.
Dua lembar sisi dunia kita, ada lembaran dongeng yang mengharuskan aku memahaminya dalam ruang berbeda. Namun, kita masih dalam waktu dan detik yang selalu sama.
Sisi-sisimu, adalah dunia yang tak tersentuh hujan-hujanku. Memetamorfosa segalanya dalam keramahan sebuah nurani. Alur yang searah denganku, namun tak seniat dengan deretan detak mimpi-mimpiku. Seringkali, sayap-sayap rinduku yang lembut perlahan tergores oleh ranting-ranting dalam jiwamu. Aku tertinggal jauh olehmu, oleh segala sisi yang engkau miliki dan bingkai sendiri. Perlahan, aku seakan mendekap nafas erat-erat dalam pertahanan waktu. Jarak tak mengubah segalanya, aku masih terus mengikutimu.. menapaki dengan sabar sisa jejakmu yang masih menghangat di bulir pasir waktu. Prasangka dan kadangkala rasa cintaku, membulir hingga tak tahu hari dan jam..
Ah, waktu... izinkan aku bertahan dalam menyelami semua sisi-sisimu...
Sisi-sisiku, adalah ruang berbatas dengan aroma perdu sehabis tersiram hujan. Sisiku, berwarna kelabu, lembut dan mencekam sensasi. Aku tak berharap engkau mengerti, aku tak memaksa untuk dipahami. Sebab, jarak kita adalah antara hujan dan teriknya malam menggantung nadi. Kubayangkan engkau yang melangkah lemah dengan ujung pena meruncing di ujung hati. Menggurat waktu dengan rindu namun saling menggelabui. Melepas pandang namun hati menjelmakan sebuah bongkahan fajar di pinggir sunyi.
Sisi-sisiku, adalah aku yang setiap merindu selalu bernafas dengan irama sunyi. Melepas perih dengan lirih yang tersembunyi. Dan, sisi-sisimu adalah ruang lain dari fajar yang memantik renyai kemilau. Tertahan, menggema dan saling membenamkan..
Pada sisiku dan sisimu.. Adalah dunia dengan sekat rindu yang melagu dalam jarak sepi.
Malang, 18 Juli 2012
I am Just Afraid..
Izzaty.. saya hanya takut.
Bukan tak percaya padaMu, tetapi saya hanya takut
saya takut mendapati kenyataan bahwa hati saya serapuh
daun musim gugur
meski seringkali saya terjatuh dan terluka
namun, saya tak bisa untuk tak takut
memasuki gerbang itu untuk Engkau
ah, betapa bodohnya rasa takut dan hati saya
Izinkan saya tetap berada dalam arahMu
Izzaty...
Malang, 18 Juli 2012
Your Voice...
Ingin sekali..
mendengar suaramu, yang sejenak mampu
melenyapkan waktu dan detik-detiknya
melebur semua runyam rindu yang terus menagih
yang juga sekejap melelapkan dunia
Tetapi, sepertinya saya yang terlalu sering
menghadirkan mimpi-mimpi tentangmu
Padahal, saya sedang rindu
yang sesaknya tak kenal waktu.
Malang, 17 Juli 2012
From All My Heart...
Terima kasih sudah datang ke dalam hatiku. Memulai untuk memahami ritmis dan irama perjalananku. Semoga aku tak salah memahamimu. Bahwa aku amat sulit dipahami, bahwa aku amat rumit dimengerti. Namun, aku takkan memintamu untuk itu semua. Biar aku terlebih dahulu yang menyelami duniamu, memahami dalamnya kesungguhanmu. Dan mengerti bagaimana engkau memaknai semua dengan hatiku.
Engkau hadir di sini saja, mencoba datang dengan segala kepasrahan dan kerelaan. Adalah sebuah cinta tak berbayar yang begitu mahal harganya. Menawariku untuk selalu tersenyum, tak memintaku untuk terus berlabuh di armada yang sama, serta memberiku segenap ruang dihatimu. Itu adalah hadiah terbesar untukku.
Semoga itu adalah aku, yang pelan-pelan merindukanmu seperti irama denyar hujan di musim kelabu. Yang menghangatkan hatimu dengan mengingatku. Yang mendebarkan jantungmu setiap detik dan yang membuatmu selalu jatuh cinta sepanjang waktu.
Probolinggo, 12 Juli 2012
About You...
Kawan, tak ada yang lebih baik dari tanganmu..
ketika hatiku terluka dan bersedia menghapus airmataku
tak ada yang lebih indah dari bermimpi bersamamu
merangkai bintang dengan seluruh ujung-ujungnya
menghayati setiap derai luka dengan tawa dan pelukan hangat
sungguh kawan, tak ada yang lebih hangat dari telapakmu
ketika engkau bersedia hadir di bawah atap langit
menghela setiap resah bersamaku..
......
namun, tanpa terasa waktulah yang harus bicara pelan
tentang sebuah jeda panjang yang dahulu seringkali kita bicarakan
bahwa pada suatu hari, kita harus merelakan pertemuan
dengan cerita lain untuk sebuah 'selamat datang'
yang kumiliki sekarang hanya sebuah kenangan
bahwa engkau sempat hadir menitipkan makna pada sebuah perjalanan
yang tak lekang terhempas detak
bahwa engkau juga sempat di sini
beriringan melambai bersama sebuah langkah
tanpa pernah tahu duri mana yang lebih terjal
bahwa kita juga tak pernah tahu
selama bersama.. tak ada yang lebih berarti daripada berada di sampingmu
saling menyandarkan bahu menatap nyata dunia.
Engkaulah itu, kawan..
yang tak lelah memberi dan memberi
terima kasih tanpa jeda untukmu.
Probolinggo, 12 Juli 2012
When You Come...
I think that possibly
Maybe I'm falling for you
Yes There's a chance that I've fallen quite hard over you
--Landon Pigg
"....... Sepertinya saya akan jatuh cinta padamu"...
Kata sederhana yang membuat saya terlonjak dan hampir jatuh. Saya tak pernah menyangka kalau ternyata waktu membuat perubahan nyata tentang perasaanmu. Kamu menyabotase beberapa hela nafas saya sejenak dan membelenggu separuh yang saya miliki seketika. Saya tak percaya ada manusia seringan kamu mengungkap cinta seperti itu.
Ada ratusan detik waktu yang sempat terkecap bersama. Tetapi, kenapa saya yang tiba-tiba menjadi pilihan untuk hatimu? Saya penasaran hingga detik ini...
Memori saya menjelajah kembali ruang masa lalu dimana saya pertama kali bertemu denganmu. Mencari waktu yang sempat hilang dari ingatan saya pada hadiah istimewa tentang dirimu. Saya khawatir, kalau saya salah menempatkan kamu pada ruang yang berbeda.
Apa yang kamu pikirkan tentang saya? Sebab, saya adalah manusia paling tidak sempurna di dunia.
Malang, 28 June 2012
"I lost my word, blure my inspiration, and fallin my imagination."
Enter To My World...
Apa yang engkau pikirkan tentangku?
mencintaiku berarti engkau tengah bersiap mengetuk duniaku
menempatinya sementara sembari menatapku lalu lalang di dalamnya
kenalkah engkau dengan imajinasiku?
tak bingungkah engkau dengan siklus hidup yang kujalani?
engkau mestinya mempersiapkan segalanya
sebelum memutuskan untuk jatuh cinta padaku.
Malang, 28 June 2012
"Apa yang kamu harapkan dari saya, kawan?"
My Lines...
Entah bagaimana kamu mendefinisikan dunia-ku ini.
Zona yang penuh dengan 'unpredictable thing'
dunia yang kau sebut sebagai dunia para manusia imaji:
"komplikasi, rumit, tak berprediksi, romantis melankolis,
berantakan, dan lain-lain"
beradu banting dengan pribadiku yang random dan aneh
dunia yang tak hanya berisi runtai kata dan makna
dunia aneh penuh gradasi antara ras, agama dan sosial
dunia yang kadang menjadi big-bang tersendiri bagi masa depanku
dunia yang penuh pengembaraan bermakna kebebasan.
Entah,
bagaimana kamu mengartikan garis liuk hidupku ini
manusia buta yang tak hanya mengartikan bahwa alfabet itu tak cuma
ada 26 saja.
namun, ada lebih dari 1 Milyar arti
mencoba mencari padanan kata yang logis untuk
memakna sebuah kebebasan.
Sebagaimana duniamu, kawan
garisku yang acak ini adalah tempatku bernafas atas kehidupan
start untuk bermarathon dengan waktu
dan berhenti pada titik 'nol'
tempat penuh arti yang tak sekedar berbentuk dalam kata
dalam duniaku...
kamu adalah makna hidup itu sendiri
tempat dimana aku hanya menemukannya bila bertemu denganmu
kamu adalah sebuah kehadiran yang tak memiliki aral
namun hidup dan bermetamorfosa sesuai cetak kata.
Duniamu, kawan...
adalah dunia yang tak mampu kumasuki
tanpa ulur tangan di depan pintu.
aku hanya ingin berteman denganmu
bukan pada dunia-mu agar aku mampu berpijak,
bukan pula atas egois-ku demi menghadirkan makna-mu pada duniaku
aku hanya ingin di sisimu, sebab kamu ada.
sebab kamu hadir
Malang, 20th June 2012
By. Qoriatul Mahfudhoh Qoffal
Langganan:
Postingan (Atom)



















