It’s Not Goodbye



And what if I never kiss your lips again or feel the touch of your sweet embrace
How would I ever go on without you there is no place to belong
Well, someday love is gonna lead you back to me but till it does I'll have an empty heart
So I'll just have to believe somewhere out there you're thinking of me

Until the day I let you go, until we say our next hello. It's not goodbye. 'till I see you again
I'll be right here remembering when and if time is on our side
there'll be no tears to cry on down the road there is one thing I cant deny
Its not goodbye

......
(By. Laura Pusini --- It's not good bye)

Terinspirasi dari lagu manisnya Laura Pusini dengan judul yang sama saya lagi-lagi teringat dengan salah satu scene di dalam film animasi Jepang (masih dengan judul yang sama: Rurouni Kenshin) yang sedang saya gandrungi sekaligus saya benci saat ini. Scene yang sempat saya ceritakan sebelumnya dalam judul Ruroni Kenshin Part 3: The Emotional Plots (A Review) pada potongan pertama (Touched Farewell).

Basically, this song do not refers to the scene in Samurai X, but it looks like coincidentally resembling on emotion in Kenshin and Kaoru’s farewell. Once again, I falling down and manifestly felt their emotions (instead of the writer’s emotion through those characters) when listen to this song.

Yogyakarta
Second week of October tragic

Rurouni Kenshin Part 3: The Emotional Plots (A Review)




Ada beberapa bagian yang membuat saya cukup emosional menonton animasi ini dan akhirnya berdampak cukup buruk pada keseharian saya seperti yang sempat saya ceritakan sebelum-sebelumnya. Potongan-potongan plot ini terpisah dalam beberapa versi, termasuk versi yang sempat booming di Indonesia beberapa tahun yang lalu.

Potongan pertama: (Touched Farewell) ketika Himura hendak berangkat menuju Kyoto untuk membantu pemerintah Meiji mengatasi pemberontak paling kuat, Shishio. Semula ia menyadari bahwa ia akan kembali pada kehidupan yang sangat ia takuti dan hindari, pembantai berdarah dingin dan mati sebagai seorang samurai pembantai terhebat sepanjang sejarah. Karena itu ia mengucapkan perpisahan hanya pada orang yang paling ia cintai, Kaoru. Perpisahan, sepanjang sejarah pengetahuan manusia, selalu menimbulkan pertanyaan tak terjelaskan.

Potongan kedua: (Undefined Feeling) orang pertama yang membuat Himura ingin berhenti menjadi seorang pembantai adalah Tomoe (istri pertamanya). Tomoe adalah tunangan seorang samurai yang mati di tangan Himura. Karena itulah ia datang menemui Himura dengan maksud membunuhnya karena ia telah merampas kebahagiaan pertama dalam hidupnya. Betapa rumit perasaan yang mereka alami dipotongan ini. Buruknya, baik Himura maupun Tomoe sama-sama saling jatuh cinta. Tomoe merasa telah melanggar keputusan dan perasaannya sendiri. Sedangkan Himura merasa bersalah karena ia telah merampas paksa kebahagiaan orang lain dan kini malah ia jatuh cinta pada tunangan orang yang ia bunuh. Pada akhirnya Tomoe menyerahkan hidupnya sendiri demi melidungi Himura dan membawanya pada jalan komitmen untuk melindungi orang lain yang membutuhkan. Luka di wajah Himura adalah simbol dua makna, dendam tunangan Tomoe yang ia bunuh dan pemutusan dendam oleh Tomoe. Luka itu kelak menjadi sebuah legenda yang tak terhapuskan dalam jalan kembaranya.

Potongan ketiga: (Sweetest Survival) Di akhir pertarungannya dengan Shishio, Himura mengalami luka yang amat parah dan hampir menewaskannya seandainya ia tak memiliki kemauan untuk terus hidup. Tubuhnya hampir tidak memenuhi kapasitas untuk bertahan hidup, namun sejenak ia mengingat bahwa Kaoru tengah menunggunya di suatu tempat. Menunggunya pulang ke rumah bersama-sama. Hingga akhirnya semangat dan dorongan itulah yang membuatnya terus bertahan.

Potongan keempat: (The Past Vengeance) lagi-lagi ia bertengkar hebat dengan masa lalunya. Adik Tomoe yang menyaksikan secara langsung bagaimana kakaknya mempertaruhkan nyawa dan kebahagiaannya demi Himura menuntut balas dendam. Kaoru tahu persis bagaimana masa lalu itu berperan penuh dalam pengembaraannya dari waktu ke waktu dan dari ruang ke ruang. Tetapi, Himura tak menyerahkan hidupnya begitu saja pada rasa bersalah. Ia menggunakan sebaik mungkin kesempatan hidup yang diberikan oleh saudara-saudara perempuannya ketika masih kecil, kesempatan hidup yang diberikan oleh Tomoe dan juga Kaoru. Kesempatan-kesempatan yang ia dapatkan demi menjaganya tetap hidup dengan baik.

Potongan kelima: (What Things Can Make You Happy?) Himura menceritakan pada Kaoru bagaimana perjalanannya selama ini adalah untuk meminta maaf pada keluarga samurai yang ia bunuh di masa lalu, tetapi tak ada satupun yang mau memaafkannya bahkan tak mengijinkannya datang ke makam mereka. Pertaruhannya adalah kebahagiaannya. Ia takkan pernah berdamai dengan dirinya sendiri karena hidup yang telah ia rusak di masa lalu. Kesetiaan dan rasa cinta Kaoru yang dalam akhirnya membawa dia pada keputusan tulus untuk hidup sebagaimana Himura hidup. Sebuah pemberian yang terlampaui mahal untuk Himura. Artinya, Kaoru menggadaikan kebahagiaannya sendiri demi menanggung kesedihan bersama dengan orang yang dicintainya. Hingga akhirnya, Kaoru meminta Himura untuk menjadi bagian dari keluarganya yang utuh.
Potongan keenam: (I Will Give Everything to You, Just Be Happy) Mereka menikah dan memiliki seorang putra. Setiap kali ia pulang dari perjalanannya, kebahagiaan dan kedamaian dihatinya membuncah tak terkira merasakan makna rumah terutama ketika ia melihat Kaoru yang selalu setia menunggu kedatangannya di teras rumah setiap hari. Kedamaian yang ingin selalu ia jaga. Tugasnya kini hanya satu, membuat Kaoru bahagia, tak peduli apapun. Seorang yang mencintainya tanpa syarat.


Potongan ketujuh: (Share Your Pain With Me, Please) bagian inilah yang membuat saya sedih. Entah ada hujan dan angin dari mana tiba-tiba sepulang dari perjalanannya Himura terkena wabah penyakit kulit yang menular dan tak bisa disembuhkan. Ia menghindari diri dari Kaoru untuk menjaga istrinya tetap sehat. Namun, ketulusan dan keputusan istrinya sejak pertama kali bertemu dengannya tak dapat diganggu gugat. Kaoru tak bisa hidup tanpa Himura, apapun yang terjadi. Inilah konflik paling besar yang bikin saya distressed sejak awal (*geleng-geleng kepala). Kaoru merasakan adanya perpisahan yang benar-benar tak terhindarkan saat ini. Rasa sakit yang dirasakan oleh suaminya harus ia rasakan pula, tak bisa tidak. Akhirnya, Kaoru juga terjangkiti penyakit tersebut karena tidak bisa berada terlalu jauh dengan suaminya.

Potongan kedelapan: (I am Home) Yang paling membuat saya frustasi adalah scene terakhir dari tayangan samurai X versi OVA ini. Penyakit yang diderita oleh Himura mencapai batas akhir. Namun, ia tak ingin mati di tempat asing dalam perjalanannya kali ini. Ia ingin pulang dan bertemu dengan istrinya. Ia tak ingin istrinya menunggu ketidakpastian. Sementara itu, penyakit yang sama juga melumpuhkan Kaoru. Jalan hidup yang ia pilih demi orang yang dicintainya benar-benar menyedihkan. Namun, ketulusan itu menjalar di setiap waktu. Kaoru tak pernah berhenti menunggu Himura pulang dan kembali padanya. Dengan jalan tertatih, Himura menelusuri jalan pulang menuju Kaoru. Ia tahu, kematian tengah mengejar selangkah tepat di belakangnya. Kaoru menyadari bahwa suaminya pulang. Dengan langkah berat pula ia menjemput Himura di jalan setapak yang selalu menjadi tempat paling menyenangkan bagi mereka. Melihat Kaoru dari kejauhan, Himura tersenyum bahagia meskipun tubuhnya tak lagi dapat ia rasakan. Himura terjatuh tepat dipelukan istrinya dan berkata bahwa ia pulang dan kembali pada Kaoru. Himura menemui ajalnya dipangkuan istrinya. Bekas luka dipipi Himura menghilang menandakan bahwa tak lagi ada dendam tersisa. Himura telah melunasi semua hutang-hutang di masa lalunya sekaligus membuat Kaoru bahagia. Tak lama setelah itu, Kaoru meninggal dengan penyakit yang sama.

Potongan kesembilan; (The Little Himura) Putra Himura dan Kaoru, Himura Kenji akhirnya meneruskan perjuangan ayahnya dan mewarisi pusaka bersejarah milik ayahnya, Sakabatou. Karakternya hampir sama dengan ayahnya, Himura Kenshin dan karakter gadis yang disukainya pun seperti Kamiya Kaoru. Kalau dipikir-pikir, penonton banyak menilai kalau mereka itu seperti reinkarnasi dari kedua orang tua Kenji. Jalan ceritanyapun katanya hampir sama dengan plot Himura Kenshin dan Kamiya Kaoru. Seakan-akan penulis mencoba menyempurnakan kisah hidup Himura Kenshin yang masa lalunya benar-benar gelap dengan karakter putranya sendiri. Begitu pula dengan Kaoru, Chizuru yang mirip sekali dengan tokoh Kaoru seakan-akan dihidupkan kembali dengan nama yang berbeda.


Yogyakarta, Unimportant Writing
Testing my writing skill. 11 Oktober 2014

Rurouni Kenshin Part 2: What Happened With Me?




Hari ini, demi mengurangi guncangan emosi dan kegalauan saya yang berlebihan, saya berniat tidak melanjutkan nonton film menyedihkan ini. Selain Inuyasha dan Sakura (film kesukaan saya dulu ketika masih SMP) akhirnya kini saya menambah daftar minat saya pada film animasi Jepang, Rurouni Kenshin. Guncangan emosi yang satu ini cukup merugikan karena kapasitas belajar saya berkurang sangat drastic, kalau tidak mau dibilang tidak belajar sama sekali selama beberapa hari ini. Selain itu, kesehatan saya mendadak terancam karena tidak ada makanan yang bisa masuk, kecuali air putih. Kalau kamu membaca tulisan ini kamu akan berpikir bahwa saya terlalu berlebihan dan mendramatisir plot film yang nyata sekali ketidaknyataannya. Saya hendak meyakinkan diri dengan pernyataan sederhana seperti itu tetapi entah kenapa saya seperti terlanjur kepleset dan akhirnya jatuh juga. Harus ada seseorang yang membangunkan saya, apapun resikonya, dari emosi yang dramatis ini. Karena saya harus kembali menyusun proposal penelitian untuk tesis saya yang akan dipresentasikan sekitar akhir Oktober nanti (crying).

Seorang teman mencoba membantu saya bangun dan bilang kalau kisah mereka itu memang dibuat demikian supaya mereka tetap menjadi yang terbaik di atas panggung. Sandiwara mereka itu buatan yang sangat nyata, karena itu saya harus segera menyadarkan diri bahwa saat ini saya ada di kursi penonton sedangkan mereka ada di panggung teater bernama layar computer. Bukan di ruang nyata tepat di hadapan saya. Demi mengeluarkan diri saya dari dimensi membingungkan ini.

Apa yang terjadi dengan saya? Sebegitu kesepiannyakah saya sampai-sampai saya merasakan perasaan Kaoru dengan baik dengan menata dimensi emosi saya melampaui ruang dan waktu? Sebegitu miripkah kisah saya dengannya sampai saya tidak bisa memahami jalan yang ia lalui? (wake me up, please). Saya hampir seperti seorang yang patah hati dan mengalami de javu karena animasi aneh ini. Saya berniat menghapusnya, tetapi keputusan itu seakan-akan menjadikan saya seorang gadis pengecut yang hanya takut pada plot film. Lalu, bagian manakah yang membuat saya cukup resah dan sedih? Kematian Himura? Bukankah dia mati dengan bahagia dipangkuan istrinya? Lalu, yang sebelah mana?

Begitulah kira-kira pertanyaan-pertanyaan yang membuat saya tersandera oleh plot film fiksi ini. Saya berusaha melarikan diri dengan mengumpulkan potongan-potongan realitas agar saya segera bangun dari mimpi dan melanjutkan hidup seperti biasanya. Saya sejenak teringat momen atau even ketika saya menonton film horror atau film thriller pembunuhan yang menjijikkan. Saya biasanya tidak bisa tidur selama beberapa hari bahkan terbawa sampai mimpi pula. Tetapi, setahu saya, ini adalah drama terparah yang saya alami dalam sejarah saya menonton film. (falling down again)


Yogyakarta, 11 Oktober 2014
Di sudut kecil kotak kamar

Rurouni Kenshin Part 1 : My Toreful Story for Watching It




Rurouni Kenshin (Samurai X) :: it should be my serious days without doubt
Apa yang terjadi dengan saya minggu-minggu ini? Indeed, I felt tragic just because of an illusion. Himura Kenshin dan Kamiya Kaoru. Both are the reason of my biggest distressed. Benar, pada awalnya saya hanya berniat menghibur diri sendiri sejenak dan beristirahat dari kesibukan dan kerempongan menata proposal penelitian. Film adalah pelarian terbaik karena yang saya butuhkan Cuma peleburan dan kesantaian emosi saja.

Melihat betapa menyedihkannya movie storage saya yang hanya dua item (Rurouni Kenshin dan Kungfu Panda) yang sudah tersimpan secara abadi sejak tiga tahun lalu, akhirnya saya menuju ke warnet dekat rumah kos. Mengubrak-abrik folder film animasi yang bisa menghibur dan akhirnya saya ketemu dengan film yang populer pada tahun 2001 dulu: Samurai X. Indeed, teramat terlambat untuk merasa sedih dengan film yang populer ketika saya masih duduk di bangku SD itu. Ada sekitar 95 episode yang sengaja ditayangkan di Indonesia dan ada beberapa yang rilisnya dari OVA (atau bisa dibilang original version) yang terhapus dari penayangan. Ada beberapa pula yang sengaja saya donlot karena saya penasaran dengan kisah lengkapnya duo kekasih Himura Kenshin dan Kamiya Kaoru yang menyedihkan.

Itulah awal terjadinya bencana dan kiamat kecil untuk emosi saya. Kesedihan, rasa cinta yang terlampaui dalam, penyesalan, dan ironi-ironi hidup kedua tokoh itu mendadak mengguncang hidup saya selama seminggu lebih (#menyertakan ekspresi lebay tapi nyata). Perpisahan, pertemuan, lalu perpisahan lagi selalu menjadi jarum dan benang terbaik untuk hati manusia. Pengarang, tepatnya Nobuhiro Watsuki benar-benar menyerahkan emosi yang mengguncang itu dalam kedua tokoh tak nyata itu. Mengapa mendadak seperti itu? Berikut jawaban saya…

Semenjak saya memasuki dunia Kajian Budaya dan Media, perasaan saya terlampaui sensitive untuk menyadari bahwa adegan-adegan dalam film itu tidak nyata dan hanya gerakan buatan saja sehingga saya tidak bisa menikmati hiburan tersebut sepenuhnya. Akhirnya, mau tidak mau saya beralih pada film animasi atau film 3D. Saya berpikir, apapun ideology yang ada di dalam film asalkan itu mengajarkan kebaikan dan kebajikan kepada manusia saya tak keberatan menonton dan mengunyah mitos-mitos di dalam multimedia tersebut. Lalu, mengapa dengan Himura Kenshin dan Kamiya Kaoru? Selain pemilihan instrument yang benar-benar mellow dan lagu-lagu yang mengguncang emosi, plot yang dihadirkan Nobuhiro lewat kisah cinta keduanya benar-benar rumit dan sejujurnya saya tidak benar-benar memahaminya. Setelah Himura menjadi seorang pengembara selama bertahun-tahun demi mencari kedamaian di dalam dirinya sendiri setelah menjadi seorang pembantai, ia menemukan muara hidupnya di dalam diri Kaoru. Mereka berpisah, lalu bertemu, dan kemudian berpisah lagi, sampai akhirnya Himura menemui ajal dipangkuan istrinya keduanya, Kaoru setelah mencoba bertahan menghadapi penyakit kulit yang mematikan. Kesalahannya di masa lalu ketika menjadi seorang pembantai berdarah dingin harus dibayar dengan harga yang sangat mahal, kebahagiaannya sendiri.

Hal yang belum saya pahami adalah, kalau Himura masih ingin mempertahankan kebahagiaannya lalu kenapa dia memutuskan meninggalkan istrinya selama bertahun-tahun untuk mengembara lagi? Lalu, kenapa Kaoru tidak mencegah suaminya pergi sementara akar kebahagiaannya ada di dalam diri Himura? Hadowh,,,, tahukah seberapa frustasinya saya dengan jalan pikiran si Nobuhiro yang ujug-ujug membunuh tokohnya sendiri diakhir cerita? Saya bahkan insomnia dan bangun di tengah-tengah malam hanya karena saya memikirkan perjuangan hidup kedua tokoh tersebut. Tidak bisa tidur dengan baik dan paginya kepala saya nyut-nyutan. Saya mencoba menjawab dengan meyakinkan diri sendiri kalau di dunia ini ada sejuta manusia maka ada sejuta cara mencintai, sejuta jalan hidup yang berbeda, dan sejuta kebahagiaan versi sendiri-sendiri. Tapi saya tidak benar-benar bisa meyakinkan diri sendiri kecuali dengan membiarkan saja cerita itu mengalir apa adanya.

Mencari obat kegalauan saya, akhirnya saya mencari fan fiction yang ditulis akibat kekecewaan penonton pada ending OVA Samurai X. Semakin jauh saya membaca, saya semakin tidak mengerti apa-apa. Fan fiction membuat saya semakin galau karena saya hanya menemukan ending yang sama dengan kisah asli yang ditulis oleh Nobuhiro. Kematian tokoh utama dikisahkan dengan penuh emosi kesedihan dan penerimaan yang tidak saya pahami. Awalnya, tokoh utama Himura Kenshin berjuang mati-matian untuk tetap survive di dalam perang paling mengerikan sekalipun, karena ia tahu bahwa ia harus hidup demi kebahagiaan seseorang di sana dan demi orang-orang yang dulu pernah berjuang mempertaruhkan nyawa demi kehidupannya. Karena itulah, kalau penonton hanya melihat serial animasi yang ditayangkan televisi Indonesia, endingnya tidak semenyedihkan yang ditayangkan oleh OVA.

Lalu, kenapa saya harus galau dengan kisah yang hanya narasi, fiksi bahkan tokohnyapun hanya eksis di dalam gambar saja? Jawaban saya sebenarnya tidak sesederhana itu, saya menyadari betul bahwa kisah dan tokoh itu hanya fiktif belaka. Tetapi, ada yang nyata di sana. Itu adalah gambaran emosi manusia yang diletakkan di dalam sebentuk gambar. Kenyataannya adalah kamu benar-benar merasakan makna setiap momen di sana. Momen lucu, kegetiran, kebahagiaan, cinta, ketulusan, dan pengorbanan yang diadopsi dari semua perjuangan hidup manusia. Terutama, hal yang membuat saya distressed adalah karena saya belum bisa menemukan jawaban tentang cara bagaimana mereka (tokoh-tokoh tersebut) bahagia sesuai dengan versi mereka, berpisah.
When you are looking at a flower, do not just feel the beauty of it but absorb its way of life and grow. Then, you’ll know the reason why they are exist in this world.

October, 11, 2014
Yogyakarta, I write this tragic feeling in my box.